Ketika kita membicarakan sejarah perjuangan di Nusantara, nama-nama seperti Diponegoro atau Sultan Hasanuddin sering kali menjadi yang paling dikenal. Namun, ada satu kelompok etnis yang perannya tak bisa dianggap remeh dalam membentuk sejarah kawasan timur Indonesia, bahkan sampai ke Tanah Jawa — yaitu suku Bugis. Salah satu tokoh paling mencolok dari periode ini adalah Daeng Parani. Ia bukan hanya seorang bangsawan, tetapi juga pejuang, penstrategi militer, dan tokoh kunci dalam migrasi besar-besaran orang Bugis ke Semenanjung Malaya dan Tanah Jawa.
Suku Bugis dikenal sebagai bangsa pelaut, petarung, dan perantau. Sejak abad ke-16 hingga ke-18, mereka tidak hanya mempertahankan tanah airnya di Sulawesi Selatan, tetapi juga memainkan peran penting dalam politik kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Dari Makassar hingga Batavia, dari Riau hingga Johor, nama-nama Bugis selalu muncul dalam cerita perebutan kekuasaan, diplomasi, dan peperangan.
Siapa Daeng Parani dan Peran Sentralnya dalam Sejarah
Daeng Parani adalah tokoh paling tua di antara lima bersaudara yang kelak dikenal sebagai Lima Daeng Bersaudara dari Bugis. Ia hidup pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, dan menjadi figur penting dalam membentuk politik kerajaan-kerajaan Melayu dan Nusantara saat itu.
Daeng Parani terkenal bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena kecerdasannya dalam membangun aliansi strategis. Ia dikenal sebagai orang yang mengubah peta kekuasaan di Johor dan Riau, dan juga terlibat dalam berbagai konflik di Tanah Jawa, termasuk dalam kancah Perang Takhta Mataram III (1704–1708).
Yang membuatnya unik adalah keberhasilannya menjadi sosok yang disegani bukan hanya di tanah kelahirannya, tapi juga oleh raja-raja dan pemimpin di tempat perantauannya. Dia adalah pahlawan lintas wilayah, yang namanya tak lekang oleh waktu di antara masyarakat Bugis dan Melayu.
Keluarga dan Asal-Usul Daeng Parani
Daeng Parani berasal dari kerajaan kecil Soppeng, salah satu kerajaan di jazirah Sulawesi Selatan. Ayahnya, Lamohang Daeng Mangkona, adalah bangsawan Bugis yang memiliki pengaruh kuat, dan ibunya juga berasal dari keluarga bangsawan.
Ia memiliki empat adik laki-laki: Daeng Menambun, Daeng Marewah, Daeng Chelak, dan Daeng Kemasi. Kelimanya kelak dikenal sebagai tokoh-tokoh penting dalam perluasan pengaruh Bugis di berbagai daerah, khususnya di Semenanjung Malaya dan Kalimantan Barat.
Pendidikan Daeng Parani bersifat militer dan diplomatik. Sejak muda, ia sudah dilatih untuk menjadi pemimpin, dan terbukti ia mewarisi semangat juang dan ketajaman strategi dari ayahnya.
Keluarga Daeng Parani bukan hanya menjadi simbol kekuatan militer Bugis, tetapi juga pelopor diaspora dan penyebaran budaya Bugis di luar Sulawesi.
Kiprah Daeng Parani di Tanah Jawa dan Politik Nusantara
Salah satu kiprah terbesar Daeng Parani adalah keterlibatannya dalam Perang Takhta Mataram. Perang ini terjadi setelah wafatnya Amangkurat II, dan muncul perebutan kekuasaan antara Amangkurat III dan Pangeran Puger (kelak Pakubuwono I).
VOC (Belanda) yang ingin memperkuat cengkeramannya di Jawa, mendukung Pangeran Puger. Namun, butuh kekuatan militer tambahan. Maka VOC memanggil bantuan dari tentara Bugis yang dipimpin oleh Daeng Parani.
Dengan kecepatannya dalam mobilisasi pasukan dan keahliannya dalam strategi tempur, Daeng Parani menjadi pemain penting dalam kemenangan Pakubuwono I. Sejak saat itu, pengaruh Bugis di Jawa meningkat tajam.
Tak berhenti di Jawa, Daeng Parani juga terlibat dalam konflik internal Kesultanan Johor, di mana ia membantu Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah naik tahta dan mendirikan dinasti Bugis di Riau-Lingga. Dari sinilah lahir peran strategis Daeng Marewah dan Daeng Chelak sebagai Yamtuan Muda di kerajaan-kerajaan Melayu.
Strategi Militer dan Aliansi yang Dibangun Daeng Parani
Daeng Parani bukan hanya jago bertempur, tapi juga piawai dalam membentuk koalisi politik dan militer. Ia mengerti kapan harus menyerang dan kapan harus berunding. Beberapa strategi khasnya antara lain:
-
Mobilisasi pasukan cepat: Pasukan Bugis dikenal gesit dan disiplin, mampu berpindah wilayah jauh dengan logistik minim.
-
Aliansi strategis: Daeng Parani tahu bagaimana memanfaatkan konflik internal kerajaan lain untuk menempatkan dirinya sebagai sekutu yang penting.
-
Penyatuan saudara sebagai pilar kekuasaan: Ia tidak berjuang sendirian, tetapi menyebarkan saudara-saudaranya ke posisi strategis.
-
Adaptasi budaya: Di mana pun ia berada, ia mampu membaur dengan adat setempat tanpa kehilangan identitas biografi Bugisnya.
Dalam banyak catatan Belanda, pasukan Bugis disebut sebagai kekuatan “yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya tapi sangat diperlukan”. Daeng Parani memanfaatkan posisi ini dengan cerdas — tidak tunduk penuh, tapi juga tidak frontal.
Makam Daeng Parani: Jejak Fisik Sang Pahlawan
Meski kiprahnya besar, informasi tentang lokasi makam Daeng Parani tidak banyak diketahui masyarakat luas. Beberapa sumber seperti Wikipedia menyebut bahwa ia wafat di sekitar tahun 1726, dalam pertempuran melawan pasukan Minangkabau di kawasan Sumatra, saat mencoba mendukung sekutu Bugis lainnya.
Namun sebagian sejarawan juga memperkirakan makamnya berada di Malaka atau Johor, mengingat ia banyak menghabiskan masa tuanya di wilayah tersebut.
Meskipun lokasi pastinya masih menjadi perdebatan, jejaknya tetap hidup — dalam cerita rakyat, silsilah bangsawan Bugis-Melayu, dan pengaruh politik yang masih bisa dirasakan dalam dinamika budaya Bugis hingga hari ini.
Warisan dan Pengaruh Daeng Parani bagi Generasi Bugis
Warisan terbesar Daeng Parani tidak hanya terletak pada ekspansi militer atau kekuasaan. Yang lebih penting adalah spirit Bugis yang ia bawa ke berbagai wilayah: keberanian, kecerdasan, dan adaptasi.
Generasi Bugis hari ini masih memegang prinsip siri’ dan pesse — harga diri dan solidaritas — yang menjadi nilai utama dalam perjuangan Daeng Parani. Banyak keturunan diaspora Bugis di Johor, Riau, hingga Kalimantan Barat yang masih menelusuri garis keturunan mereka dari Daeng Parani dan saudara-saudaranya.
Ia juga menginspirasi generasi muda Bugis untuk tidak takut merantau dan membangun pengaruh di tempat baru, sembari tetap menjunjung tinggi akar budaya.
Saya pribadi percaya bahwa karakter Bugis yang gigih, pekerja keras, dan loyal banyak dipengaruhi oleh teladan tokoh seperti Daeng Parani.
Jejak Bugis dalam Dinamika Politik Melayu
Untuk memperkuat narasi sejarah ini, kita tak bisa melewatkan topik tambahan penting: peran orang Bugis dalam struktur politik Melayu.
Pasca kemenangan politik yang didorong oleh Daeng Parani dan saudara-saudaranya, orang Bugis tidak hanya menjadi sekutu, tapi juga menduduki jabatan penting seperti Yamtuan Muda di Riau, Bendahara, bahkan menikah dengan keluarga kerajaan Melayu.
Hal ini menciptakan asimilasi budaya yang sangat khas — Bugis-Melayu — yang sampai sekarang terasa dalam tradisi, bahasa, dan sistem pemerintahan di beberapa wilayah.
Peninggalan ini juga memperlihatkan bagaimana Daeng Parani bukan sekadar pejuang lokal. Tapi aktor politik lintas-etnis yang sukses menavigasi kompleksitas kekuasaan di Nusantara.
Kesimpulan: Pahlawan Lintas Wilayah yang Tak Terlupakan
Daeng Parani bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Ia adalah simbol perlawanan, perantauan, dan kepemimpinan strategis orang Bugis di era krusial dalam sejarah Nusantara. Dari Sulawesi ke Jawa, dari Riau ke Sumatra, jejaknya menyebar luas.
Dia mengajarkan kita bahwa menjadi pahlawan bukan hanya soal pertempuran, tapi juga soal membangun aliansi, membaca peluang, dan menjaga harga diri sebagai bangsa.
Hari ini, ketika kita berbicara tentang integrasi bangsa, tentang kekayaan budaya Indonesia yang lintas daerah, nama Daeng Parani tetap relevan. Ia adalah pahlawan yang melintasi batas, menjembatani budaya, dan meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu.
Pahlawan lain pembela perjuangan Indonesia: Dr. Satrio: Pejuang Kemerdekaan dan Pendidikan