Basuki Rahmat

Basuki Rahmat: Jenderal dan Pahlawan Nasional

Basuki Rahmat adalah seorang jenderal militer dan pahlawan nasional Indonesia yang memiliki peran penting dalam sejarah negeri ini, terutama dalam masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang, profesional, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap bangsa dan negara, terutama dalam menjaga stabilitas nasional di tengah gejolak politik.

Sebagai salah satu tokoh militer yang terlibat dalam peristiwa penting nasional, peran Basuki Rahmat sangat berpengaruh dalam kelahiran Orde Baru, termasuk keterlibatannya dalam pengamanan negara pasca-G30S/PKI serta pengantaran Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Masa Kecil dan Pendidikan Basuki Rahmat

Basuki Rahmat lahir pada 4 November 1921 di Tuban, Jawa Timur. Ia berasal dari biografi keluarga Jawa yang sederhana dan religius. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan sifat disiplin dan jiwa kepemimpinan yang kuat.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat, lalu ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Menengah Atas di Surabaya. Pada masa penjajahan Jepang, ia masuk PETA (Pembela Tanah Air), sebuah organisasi militer bentukan Jepang yang melatih pemuda Indonesia. Dari sanalah karier militernya dimulai.

Peran dalam Perjuangan dan Militer

Jenderal TNI Basuki Rahmat, Tokoh Paling Cepat Dianugerahi Gelar Pahlawan  Nasional | tempo.co

Mengabdi dalam Tentara Nasional Indonesia

Setelah Indonesia merdeka, Basuki Rahmat langsung bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Ia terlibat dalam berbagai pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi militer Belanda.

Berkat kegigihan dan kedisiplinannya, ia terus naik pangkat hingga akhirnya dipercaya menduduki sejumlah posisi penting dalam tubuh TNI Angkatan Darat.

Menjadi Panglima Kodam V/Brawijaya

Pada awal 1960-an, Basuki Rahmat menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya. Dalam posisi ini, ia bertanggung jawab atas keamanan dan stabilitas di wilayah Jawa Timur, termasuk dalam menghadapi ancaman dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai seorang pimpinan militer, ia dikenal memiliki pendekatan yang tegas namun bijaksana. Ia juga sangat peka terhadap dinamika politik yang terjadi menjelang pertengahan dekade 1960-an.

Peran Strategis dalam Peristiwa 1965

Keterlibatan dalam Penumpasan G30S/PKI

Ketika peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi, Basuki Rahmat berada dalam posisi penting sebagai tokoh militer. Setelah adanya penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah jenderal oleh G30S/PKI, suasana politik dan militer di Jakarta sangat tegang.

Basuki Rahmat menjadi salah satu tokoh yang mendukung Jenderal Soeharto dalam menstabilkan situasi nasional dan menumpas gerakan tersebut. Ia bergerak cepat untuk mengamankan wilayah-wilayah strategis dan memulihkan kendali militer.

Mengantar Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)

Peran Basuki Rahmat yang paling dikenal luas adalah keterlibatannya dalam pengantaran dan penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966.

Bersama dua jenderal lainnya, yaitu Jenderal M. Yusuf dan Brigjen Amir Machmud, Basuki Rahmat menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor. Dalam pertemuan itu, Soekarno akhirnya menandatangani surat yang memberi wewenang kepada Letjen Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu demi memulihkan keamanan dan ketertiban.

Supersemar menjadi titik balik yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, karena dari surat inilah Soeharto mendapatkan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan secara de facto, yang kemudian melahirkan masa pemerintahan danatoto Orde Baru.

Karier Politik dan Jabatan Menteri

Sisi Gelap Pahlawan Nasional: Basuki Rahmat dalam Penggulingan Sukarno

Setelah masa transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto, Basuki Rahmat dipercaya untuk menduduki posisi strategis dalam pemerintahan. Ia diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Ampera I dan II.

Sebagai Menteri Dalam Negeri, ia berperan dalam mengonsolidasikan sistem pemerintahan dan memperkuat struktur administratif negara. Ia juga turut menyusun kebijakan desentralisasi awal dan penguatan pemerintahan daerah.

Kepemimpinannya dikenal tenang, tidak ambisius, dan selalu mengutamakan stabilitas nasional.

Wafatnya Basuki Rahmat

Basuki Rahmat meninggal dunia secara mendadak pada 9 Januari 1969 di Jakarta, dalam usia 47 tahun. Ia wafat saat masih menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Jenazahnya dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah Indonesia kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam menjaga keutuhan dan kestabilan negara.

Fakta Menarik tentang Basuki Rahmat

  • Salah satu pengantar Supersemar, dokumen penting yang mengubah arah pemerintahan Indonesia
  • Pernah menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya dan Menteri Dalam Negeri
  • Dikenal sebagai tokoh militer yang netral dan tidak ambisius secara politik
  • Memiliki hubungan baik dengan Presiden Soekarno dan Letjen Soeharto
  • Wafat dalam tugas, dikenang sebagai tokoh yang menjaga transisi kekuasaan tetap damai

Warisan dan Pengaruh Basuki Rahmat

Sebagai seorang jenderal yang loyal terhadap negara, Basuki Rahmat dikenang karena komitmennya terhadap stabilitas nasional. Dalam masa krisis yang sangat rawan, ia tidak memilih jalur kekerasan berlebihan, tetapi lebih pada penyelamatan struktur negara.

Namanya diabadikan di berbagai tempat di Indonesia, seperti nama jalan, sekolah, dan markas militer. Ia juga menjadi simbol militer profesional yang bekerja untuk negara, bukan untuk kepentingan pribadi.

Sikapnya yang netral dan tenang menjadikannya figur teladan bagi perwira militer dan pejabat negara dalam menjaga keutuhan bangsa di masa sulit.

Kesimpulan

Basuki Rahmat adalah seorang jenderal dan pahlawan nasional yang berperan penting dalam menjaga stabilitas Indonesia di masa-masa kritis.

Perannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, memimpin pasukan militer, menumpas pemberontakan G30S/PKI, dan membawa Supersemar kepada Soeharto menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan.

Dedikasinya kepada bangsa dan negara, ditambah sikap kepemimpinan yang rendah hati dan penuh tanggung jawab, menjadikan Basuki Rahmat sosok militer dan negarawan sejati. Ia adalah bagian penting dalam mozaik sejarah Indonesia modern.

Baca juga artikel berikut: Kahar Muzakkar: Tokoh Kontroversial dan Pemimpin Sulawesi

Author

More From Author

Kastil Gravensteen

Kastil Gravensteen: Menyelami Sejarah Megah di Jantung Belgia

Huevos Rotos

Huevos Rotos: Spain’s Dish of Eggs, Potatoes, and Chorizo